Kalender

Last month December 2014 Next month
M T W T F S S
week 49 1 2 3 4 5 6 7
week 50 8 9 10 11 12 13 14
week 51 15 16 17 18 19 20 21
week 52 22 23 24 25 26 27 28
week 1 29 30 31

Jajak Pendapat

Apa yang menurut anda yang perlu diperbaiki untuk meningkatkan Mutu sekolah ?
 

Jumlah Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini141
mod_vvisit_counterKemarin130
mod_vvisit_counterMinggu Ini1976
mod_vvisit_counterMinggu Lalu3894
mod_vvisit_counterBulan Ini8913
mod_vvisit_counterBulan Lalu8961
mod_vvisit_counter0210102

Banner

Wilujeng Sumping

BIDANG KURIKULUM

Wakasek Bidang Urusan Kurikulum

(Mohamad Arif Hasan, S.Pd., M.Pd.)

STRUKTUR DAN MUATAN KURIKULUM SMA NEGERI 1 SINGAPARNA

A. Struktur Kurikulum 2013

    Pengertian

Struktur kurikulum SMA meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun mulai kelas X sampai dengan kelas XII. Pada tahun pelajaran 2014-2105 SMA Negeri 1 Singaparna unutk kelas X sdan kelas XI telah dan sedang menggunakan implementasi kurikulum 2013, sedangkan kelas XII masih menggunakan kurikulum 2006. Struktur kurikulum SMA Negeri 1 Singaparna disusun berdasarkan standar isi, standar kompetensi lulusan, dan standar kompetensi mata pelajaran.

Muatan Kurikulum SMAN 1 Singaparna terdiri atas muatan kurikulum pada tingkat nasional, muatan kurikulum pada tingkat daerah, dan muatan kurikulum kekhasan satuan pendidikan.

a.Muatan Kurikulum pada Tingkat Nasional

Untuk SMA/MA mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 69 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum SMA/MA.

b.Muatan Kurikulum pada Tingkat Daerah

Muatan Kurikulum pada tingkat daerah yang dimuat dalam Kurikulum SMAN 1 Singaparna terdiri atas sejumlah bahan kajian dan pelajaran dan/atau mata pelajaran muatan lokal yang ditentukan oleh pemerintah provinsi Jawa barat dan kabupaten Tasikmalaya.

Muatan lokal yang berlaku di SMAN 1 Singaparna yaitu Bahasa Sunda, sesuai dengan SK Gubernur Jawa Barat nomor : 423/Kep.674-Disdik/2006 tentang standar kompetensi dasar serta panduan penyusunan kurikulum mata pelajaran bahasa Sunda dan sastra Sunda serta Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Nomor 423/2372/Set-disdik tertanggal 26 Maret 2013 tentang Pembelajaran Muatan Lokal Bahasa Daerah pada Jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA. Mulai tahun pelajaran 2012/2013 ditambah lagi 1 jam pembelajaran untuk Muatan Lokal Kitab Kuning sesuai dengan Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya Nomor 421.2/2891/Disdik/2012  mengacu pada Peraturan Bupati Tasikmalaya Nomor 16 Tahun 2012 Tentang Wajib Belajar Pendidikan Diniyah di Kabupaten Tasikmalaya.

c.Muatan Kekhasan Satuan Pendidikan

Muatan kekhasan SMAN 1 Singaparna yaitu pembacaan Asmaul Husna secara serempak; berupa program kegiatan yang dilaksanakan setiap hari sebelum proses pembelajaran dimulai.


2. Kelompok Mata Pelajaran Wajib

Kelompok mata pelajaran wajib merupakan bagian dari pendidikan umum yaitu pendidikan bagi semua warganegara bertujuan memberikan pengetahuan tentang bangsa, sikap sebagai bangsa, dan kemampuan penting untuk mengembangkan kehidupan pribadi peserta didik , masyarakat dan bangsa.

Struktur kelompok mata pelajaran wajib dalam kurikulum SMA sebagai berikut:

Tabel 1: Mata pelajaran wajib kurikulum SMAN 1 Singaparna

MATA PELAJARAN

ALOKASI WAKTU PER MINGGU

X

XI

XII

Kelompok A (Wajib)

 

 


1.

Pendidikan Agama dan Budi Pekerti

3

3

3

2.

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

2

2

2

3.

Bahasa Indonesia

4

4

4

4.

Matematika

4

4

4

5.

Sejarah Indonesia

2

2

2

6.

Bahasa Inggris

2

2

2

Kelompok B (Wajib)

 

 


7.

Seni Budaya

2

2

2

8.

Pendidikan Jasmani, Olah Raga, dan Kesehatan

3

3

3

9.

Prakarya dan Kewirausahaan

2

2

2

10.

Bahasa Sunda (Mulok)

2

2

2

Jumlah Jam Pelajaran Kelompok A dan B per minggu

26

26

26

Kelompok C (Peminatan)

 

 


 

Mata Pelajaran Peminatan Akademik

12

16

16

 

Mata Pelajaran Pilihan Lintas Minat

6

4

4

JUMLAH ALOKASI WAKTU PER MINGGU

44

46

46

 

Mata pelajaran wajib kelompok A dan C adalah kelompok mata pelajaran yang substansinya dikembangkan oleh pusat, sedangkan mata pelajaran wajib kelompok B adalah kelompok mata pelajaran yang substansinya dikembangkan oleh pusat dan dapat dilengkapi dengan konten local yang dikembangkan oleh pemerintah daerah.

Satu jam pelajaran tatap muka 45 menit per minggu dan mapel yang memiliki alokasi waktu belajar 2 jp/minggu berarti memiliki beban belajar tatap muka 2 X 45 menit per minggu; mapel yang memiliki alokasi waktu belajar 3 jp/minggu berarti memiliki beban belajar tatap muka 3 X 45 menit per minggu; dan seterusnya.

3. Kelompok Mata Pelajaran Peminatan

Kelompok mata pelajaran peminatan bertujuan (1) untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik mengembangkan minatnya dalam sekelompok mata pelajaran sesuai dengan minat keilmuannya di perguruan tinggi. dan (2) untuk mengembangkan minatnya terhadap suatu disiplin ilmu atau keterampilan tertentu.

Tabel 2: Mata  Pelajaran Peminatan dalam Kurikulum SMAN 1 Singaparna

MATA PELAJARAN

Kelas

X

XI

XII

Kelompok A dan B (Wajib)

26

26

26

Kelompok C (Peminatan)

Peminatan Matematika dan Ilmu Alam (MIA)

I

1

Matematika

3

4

4

2

Biologi

3

4

4

3

Fisika

3

4

4

4

Kimia

3

4

4

Peminatan Ilmu-ilmu Sosial (IIS)

II

1

Geografi

3

4

4

2

Sejarah

3

4

4

3

Sosiologi

3

4

4

4

Ekonomi

3

4

4

Mata Pelajaran Pilihan

Pilihan Lintas Kelompok Peminatan

6

4

4

Jumlah Jam Pelajaran Yang Tersedia per minggu

70

74

74

Jumlah Jam Pelajaran Yang harus Ditempuh per minggu

44

46

46

 

4. Beban Belajar

Beban belajar merupakan keseluruhan kegiatan yang harus diikuti peserta didik dalam satu minggu, satu semester, dan satu tahun pembelajaran.

a.Beban belajar di SMAN 1 Singaparna dinyatakan dalam jam pembelajaran per minggu.

Beban belajar satu minggu untuk kelas X adalah 44 jam pembelajaran. Durasi satu jam pembelajaran adalah 45 menit. Beban belajar dalam satu tahun pelajaran paling sedikit 34 minggu dan paling banyak 38 minggu.

b.Beban belajar di SMAN 1 Singaparna diatur dalam bentuk sistem paket

Beban belajar dengan system paket sebagaimana diatur dalam struktur kurikulum merupakan pengaturan alokasi untuk setiap mata pelajaran yang terdapat pada semester gasal dan genap dalam satu tahun ajaran. Beban belajar pada system paket terdiri atas pembelajaran tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri. Beban belajar penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri di SMAN 1 Singaparna yaitu 0%-60% dari waktu kegiatan tatap muka mata pelajaran yang bersangkutan. Pemanfaatan alokasi waktu tersebut mempertimbangkan potensi dan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi.

5. Peminatan dan Pilihan Lintas Minat

Kurikulum SMAN 1 Singaparna dirancang untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik belajar berdasarkan minat mereka. Struktur kurikulum memperkenankan peserta didik melakukan pilihan dalam bentuk pilihan Kelompok Peminatan dan pilihan mata pelajaran antar Kelompok Peminatan (Lintas Minat).

Kelompok Peminatan yang dipilih peserta didik terdiri atas kelompok Matematika dan Ilmu-ilmu Alam (MIA) dan kelompok Ilmu-ilmu Sosial (IIS). Sejak mendaftar ke SMAN 1 Singaparna, di kelas X seorang peserta didik sudah harus memilih kelompok peminatan mana yang akan dimasuki. Pemilihan kelompok peminatan berdasarkan nilai rapor SMP/MTs, nilai ujian nasional SMP/MTs, hasil tes penempatan (placement test) ketika mendaftar ke SMAN 1 Singaparna, dan tes bakat/minat oleh guru BK atau Psychotest.

Selain harus mengikuti seluruh mata pelajaran di kelompok peminatan, setiap peserta didik harus mengikuti mata pelajaran tertentu untuk lintas minat sebanyak 6 jam pelajaran di kelas X dan 4 jam pelajaran di kelas XI dan XII. Penentuan mata pelajaran kelompok pilihan lintas minat di SMA Negeri 1 Singaparna dilaksanakan dengan memberikan angket kepada siswa untuk memilih 2 (dua) mata pelajaran di luar mata pelajaran kelompok peminatannya dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Peserta didik kelompok peminatan MIA memilih 1 (satu) mata pelajaran dari kelompok peminatan Ilmu Ilmu Sosial (Geografi, Sejarah, Sosiologi, Ekonomi) dan 1 (satu) mata pelajaran dari kelompok peminatan Ilmu Ilmu Bahasa (Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa dan Sastra Inggris, Bahasa dan Sastra Arab)
  2. Peserta didik kelompok peminatan Ilmu Ilmu Sosial (IIS) memilih 1 (satu) mata pelajaran dari kelompok peminatan MIA (Matematika, Biologi, Fisika, Kimia) dan 1 (satu) mata pelajaran dari kelompok peminatan Ilmu Ilmu Bahasa (Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa dan Sastra Inggris, Bahasa dan Sastra Arab).

Dari hasil pengumpulan angket pemilihan mata pelajaran Lintas Minat diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 3. Data Angket Pemilihan Lintas Minat Kelas X Tahun Pelajaran 2014/2015

Peminatan MIA =       193 Siswa

Peminatan IIS =  160 Siswa

Bahasa Inggris

138 Siswa

Bahasa Inggris

95 Siswa

Bahasa Indonesia

40 Siswa

Bahasa Indonesia

40 Siswa

Bahasa Arab

15 Siswa

Bahasa Arab

25 Siswa

Jumlah

193 Siswa

Jumlah

160 Siswa

 

 

 

 

Ekonomi

119 Siswa

Matematika

25 Siswa

Sejarah

0 Siswa

Biologi

116 Siswa

Sosiologi

48 Siswa

Fisika

19 Siswa

Geografi

48 Siswa

Kimia

0 Siswa

Jumlah

193 Siswa

Jumlah

160 Siswa

6. Kompetensi Inti

Kompetensi Inti merupakan terjemahan atau operasionalisasi SKL dalam bentuk kualitas yang harus dimiliki peserta didik yang telah menyelesaikan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu atau jenjang pendidikan tertentu mengenai kompetensi utama yang dikelompokkan ke dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan (afektif, kognitif, dan psikomotor). Kompetensi inti menggambarkan kualitas yang seimbang antara pencapaian hard skills dan soft skills. Berfungsi sebagai unsur pengorganisasi (organizing element) KD; pengikat organisasi vertikal dan horizontal KD. Organisasi vertikal KD adalah keterkaitan antara konten KD satu kelas atau jenjang pendidikan ke kelas/jenjang di atasnya sehingga memenuhi prinsip belajar yaitu terjadi suatu akumulasi yang berkesinambungan antara konten yang dipelajari siswa. Organisasi horizontal adalah keterkaitan antara konten KD satu mata pelajaran dengan konten KD dari mata pelajaran yang berbeda dalam satu pertemuan mingguan dan kelas yang sama sehingga terjadi proses saling memperkuat.

Kompetensi Inti dirancang dalam empat kelompok yang saling terkait yaitu berkenaan dengan

1.  sikap keagamaan (kompetensi inti 1),

2.  sikap sosial (kompetensi 2),

3.  pengetahuan (kompetensi inti 3), dan

4.  penerapan pengetahuan (kompetensi 4).

Keempat kelompok itu menjadi acuan dari Kompetensi Dasar dan harus dikembangkan dalam setiap peristiwa pembelajaran secara integratif. Kompetensi yang berkenaan dengan sikap keagamaan dan sosial dikembangkan secara tidak langsung (indirect teaching) yaitu pada waktu peserta didik belajar tentang pengetahuan (kompetensi kelompok 3) dan penerapan pengetahuan (kompetensi Inti kelompok 4).

Tabel 4: Kompetensi Inti Sekolah Menengah Atas

KOMPETENSI INTI KELAS X

KOMPETENSI IN TI KELAS XI

KOMPETENSI INTI KELAS XII

1.  Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

 

1.  Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

2.  Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli

(gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif

dan menunjukkan sikap

sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

2.  Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli

(gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia

2.  Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia

3. Memahami,menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan,kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah

3. Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif

berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan,

teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah

3. Memahami, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah

4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan

4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan

4. Mengolah, menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri serta bertindak secara efektif dan kreatif, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan

7. Kompetensi Dasar

Kompetensi dasar merupakan kompetensi setiap mata pelajaran untuk setiap kelas yang diturunkan dari Kompetensi Inti dan dirumuskan untuk mencapai kompetensi inti. Unit organisasi terkecil dari Kompetensi Dasar adalah mata pelajaran. Organisasi Kompetensi Dasar dilakukan dengan cara mempertimbangkan kesinambungan antarkelas dan keharmonisan antar mata pelajaran yang diikat dengan Kompetensi Inti. Kompetensi Dasar SMA diorganisasikan atas dasar pengelompokan mata pelajaran yang wajib diikuti oleh seluruh peserta didik dan mata pelajaran yang sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan peserta didik (peminatan). Konten atau kompetensi terdiri atas sikap, pengetahuan, dan ketrampilan yang bersumber pada kompetensi inti yang harus dikuasai peserta didik. Rumusan kompetensi dasar dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik peserta didik, kemampuan awal, serta ciri dari suatu matapelajaran. Mata pelajaran sebagai sumber dari konten untuk menguasai kompetensi bersifat terbuka dan tidak selalu diorganisasikan berdasarkan disiplin ilmu yang sangat berorientasi hanya pada filosofi esensialisme dan perenialisme. Mata pelajaran dapat dijadikan organisasi konten yang dikembangkan dari berbagai disiplin ilmu atau non disiplin ilmu yang diperbolehkan menurut filosofi rekonstruksi sosial, progresif atau pun humanisme. Filosofi yang dianut dalam kurikulum adalah eklektik seperti dikemukakan di bagian landasan filosofi maka nama mata pelajaran dan isi mata pelajaran untuk kurikulum yang akan dikembangkan tidak perlu terikat pada kaidah filosofi esensialisme dan perenialisme.

Kompetensi dasar dibagi menjadi empat kelompok sesuai dengan pengelompokkan kompetensi inti sebagai berikut:

1. kelompok 1: kelompok kompetensi dasar sikap spiritual dalam rangka menjabarkan KI-1;

2. kelompok 2: kelompok kompetensi dasar sikap sosial dalam rangka menjabarkan KI-2;

3. kelompok 3: kelompok kompetensi dasar pengetahuan dalam rangka menjabarkan KI-3; dan

4. kelompok 4: kelompok kompetensi dasar keterampilan dalam rangka menjabarkan KI-4.

B. Kerangka Dasar, Struktur dan Muatan KTSP  (Kurikulum 2006)

  1. Kerangka Dasar
    a). Kelompok Mata Pelajaran

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional  Pendidikan pasal 6 ayat (1) menyatakan bahwa kurikulum untuk jenis pendidikan umum, kejuruan, dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas:

  1. kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia;
  2. kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian;
  3. kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi;
  4. kelompok mata pelajaran estetika;
  5. kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan.

Tabel 5:   Cakupan Kelompok Mata Pelajaran

No

Kelompok Mata Pelajaran

Cakupan

1.

Agama dan Akhlak Mulia

Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama.

2.

Kewarganega-raan dan Kepribadian

Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dimaksudkan untuk peningkatan kesadaran dan wawasan peserta didik akan status, hak, dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta peningkatan kualitas dirinya sebagai manusia.

Kesadaran dan wawasan termasuk wawasan kebangsaan, jiwa dan patriotisme bela negara, penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia, kemajemukan bangsa, pelestarian lingkungan hidup, kesetaraan gender, demokrasi, tanggung jawab sosial, ketaatan pada hukum, ketaatan membayar pajak, dan sikap serta perilaku anti korupsi, kolusi, dan nepotisme.

3.

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SD/MI/SDLB dimaksudkan untuk mengenal, menyikapi, dan mengapresiasi ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menanamkan kebiasaan berpikir dan berperilaku ilmiah yang kritis, kreatif dan mandiri.

Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMP/MTs/SMPLB dimaksudkan untuk memperoleh kompetensi dasar ilmu pengetahuan dan teknologi serta membudayakan berpikir ilmiah secara kritis, kreatif dan mandiri.

Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMA/MA/SMALB dimaksudkan untuk memperoleh kompetensi lanjut ilmu pengetahuan dan teknologi serta membudayakan berpikir ilmiah secara kritis, kreatif dan mandiri.

Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMK/MAK dimaksudkan untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi, membentuk kompetensi, kecakapan, dan kemandirian kerja.

4.

Estetika

Kelompok mata pelajaran estetika dimaksudkan untuk meningkatkan sensitivitas, kemampuan mengekspresikan dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni. Kemampuan mengapresiasi dan mengekspresikan keindahan serta harmoni mencakup apresiasi dan ekspresi, baik dalam kehidupan individual sehingga mampu menikmati dan mensyukuri hidup, maupun dalam kehidupan kemasyarakatan sehingga mampu menciptakan kebersamaan yang harmonis.

5.

Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan pada SD/MI/SDLB dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik serta menanamkan sportivitas dan kesadaran hidup sehat.

Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan pada SMP/MTs/SMPLB dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik serta membudayakan sportivitas dan kesadaran hidup sehat.

Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan pada SMA/MA/SMALB/SMK/MAK dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik serta membudayakan sikap sportif, disiplin, kerja sama, dan hidup sehat.

Budaya hidup sehat termasuk kesadaran, sikap, dan perilaku hidup sehat yang bersifat individual ataupun yang bersifat kolektif kemasyarakatan seperti keterbebasan dari perilaku seksual bebas, kecanduan narkoba, HIV/AIDS, demam berdarah, muntaber, dan penyakit lain yang potensial untuk mewabah.

 

b.) Prinsip Pelaksanaan Kurikulum
Dalam pelaksanaan kurikulum di setiap satuan pendidikan menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut:

1)     Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi, perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. Dalam hal ini peserta didik harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu, serta memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas, dinamis dan menyenangkan.

2)     Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar, yaitu: (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (b) belajar untuk memahami dan menghayati, (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

3)     Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan/atau percepatan sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, dan kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi ke-Tuhanan, keindividuan, kesosialan, dan moral.

4)     Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan hangat, dengan prinsip tut wuri handayani, ing madia mangun karsa, ing ngarsa sung tulada (di belakang memberikan daya dan kekuatan, di tengah membangun semangat dan prakarsa, di depan memberikan contoh dan teladan).

5)     Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, dengan prinsip alam takambang jadi guru (semua yang terjadi, tergelar dan berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan alam semesta dijadikan sumber belajar, contoh dan teladan).

6)     Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam, sosial dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal.

7)     Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri diselenggarakan dalam keseimbangan, keterkaitan, dan kesinambungan yang cocok dan memadai antarkelas dan jenis serta jenjang pendidikan.

2. Struktur Kurikulum

Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Kedalaman muatan kurikulum pada setiap mata pelajaran pada setiap satuan pendidikan dituangkan dalam kompetensi yang harus dikuasai peserta didik sesuai dengan beban belajar yang tercantum dalam struktur kurikulum. Kompetensi yang dimaksud terdiri atas standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan berdasarkan standar kompetensi lulusan. Muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri merupakan bagian integral dari struktur kurikulum pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Struktur kurikulum SMA meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun mulai kelas X sampai dengan kelas XII. Struktur kurikulum SMA Negeri 1 Singaparna disusun berdasarkan standar kompetensi lulusan dan standar kompetensi mata pelajaran.

Pada tahun pelajaran 2014/2015, struktur kurikulum SMA Negeri 1 Singaparna untuk kelas XII memanfaatkan 4 jam tambahan untuk mata pelajaran tertentu. Sehingga struktur kurikulum SMA Negeri 1 Singaparna untuk XII tahun pelajaran 2014/2015, jumlah jam pembelajarannya menjadi 44 jam pembelajaran per minggu, dengan perincian 39 jam pembelajaran mengacu pada struktur kurikulum yang tercantum dalam standar isi, 4 jam pembelajaran memanfaatkan jam tambahan, dan untuk mengefektifkan bimbingan dialokasikan 1 jam pembelajaran untuk Bimbingan dan Konseling (B.K) masuk ke kelas. Dan ditambah lagi 1 jam pembelajaran untuk Muatan Lokal Kitab Kuning sesuai dengan Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya Nomor 421.2/2891/Disdik/2012  mengacu pada Peraturan Bupati Tasikmalaya Nomor 16 Tahun 2012 Tentang Wajib Belajar Pendidikan Diniyah di Kabupaten Tasikmalaya.


a. Struktur Kurikulum Kelas XII

Struktur Kurikulum Kelas XII SMA Negeri 1 Singaparna selengkapnya disajikan pada tabel berikut:

Tabel 6: Struktur Kurikulum KTSP SMA Negeri 1 Singaparna kelas XII IPA  dan kelas XII IPS.

Komponen

Alokasi Waktu

Keterangan

Kelas XII IPA

Kelas XII IPS

Sem 5

Sem 6

Sem 5

Sem 6

 

A. Mata Pelajaran

 

 

 

 

 

  1. Pendidikan Agama

2

2

2

2

 

  1. Pendidikan Kewarganegaraan

2

2

2

2

 

  1. Bahasa Indonesia

4

4

4

4

 

  1. Bahasa Inggris

4

4

5**

5**

**S.I = 4 jam

  1. Matematika

5*

5

-

-

*S.I= 4 jam

  1. Fisika

5*

5

-

-

*S.I= 4 jam

  1. Kimia

5*

5

-

-

*S.I= 4 jam

  1. Biologi

5*

5

-

-

*S.I= 4 jam

  1. Sejarah

1

1

3

3

 

  1. Geografi

-

-

4

4

**S.I= 3 jam

  1. Ekonomi

-

-

5

5

**S.I= 4 jam

  1. Sosiologi

-

-

4

4

**S.I= 3 jam

  1. Seni Budaya

2

2

2

2

 

  1. Pendidikan Jasmani, Olah Raga, dan Kesehatan

2

2

2

2

 

  1. Teknologi Informasi dan Komunikasi

2

2

2

2

 

  1. Keterampilan Bahasa Asing (Arab)

2

2

2

2

 

B. Muatan Lokal

 

 

 

 

 

  1. Bahasa Sunda

2

2

2

2

 

  1. Kitab Kuning

1

1

1

1

 

  1. C. BK

1

1

1

1

 

D.  Pengembangan Diri

(2)*

(2)*

(2)*

(2)*

 

Jumlah

45

45

45

45

 

(2)* Ekuivalen 2 jam pembelajaran

 

3. Muatan Kurikulum

1) Mata Pelajaran

Mata pelajaran di SMA Negeri 1 Singaparna kabupaten Tasikmalaya beserta alokasi waktu untuk masing-masing kelas tercantum pada struktur kurikulum. Mata pelajaran tersebut harus ditempuh oleh peserta didik di SMA Negeri 1 Singaparna selama tiga tahun mulai kelas X sampai dengan kelas XII.

Pengorganisasian kelas pada  SMA Negeri 1 Singaparna Kabupaten Tasikmalaya dibagi kedalam tiga kelompok, yaitu :

a.  Kelas X dan XI menggunakan kurikulum 2013 membuka 2 peminatan yaitu Peminatan Matematika dan Ilmu ALam atau MIA dan Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial atau IIS.

b.  Kelas XII IPA merupakan program penjurusan program studi IPA menggunakan

kurikulum KTSP (Kurikulum 2006).

  1. Kelas XII IPS merupakan program penjurusan program studi IPS menggunakan

kurikulum KTSP (Kurikulum 2006).

 

Kurikulum Kelas X  dan kelas XI telah menggunakan kurikulum 2013 menyediakan 2 peminatan yaitu MIA dan IIS terdiri dari 6 mata pelajaran Wajib A, 4 mata pelajaran wajib B, 4 mata pelajaran peminatan, dan 2 mata pelajaran pilihan lintas minat. (Tercantum dalam struktur kurikulum 2013 tabel 2).

Kurikulum kelas Kelas XII IPA  terdiri dari 13 mata pelajaran paket, ditambah 3 mata pelajaran muatan lokal dan pengembangan diri. (Tercantum dalam struktur kurikulum KTSP tabel 6).

Kurikulum kelas XI IPS dan kelas XII IPS terdiri dari 13 mata pelajaran paket, ditambah 3 mata pelajaran muatan lokal dan pengembangan diri. (Tercantum dalam struktur kurikulum KTSP tabel 6).

2) Muatan Lokal

Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan potensi dan ciri khas daerah termasuk keunggulan daerah.

Jenis Muatan Lokal yang dikembangkan di sekolah, untuk daerah Jawa Barat telah dikeluarkan SK Gubernur Jawa Barat nomor : 423/Kep.674-Disdik/2006 tentang Standar Kompetensi Dasar serta Panduan Penyusunan Kurikulum Mata Pelajaran Bahasa Sunda dan Sastra Sunda serta Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Nomor 423/2372/Set-disdik tertanggal 26 Maret 2013 tentang Pembelajaran Muatan Lokal Bahasa Daerah pada Jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA. Mulai tahun pelajaran 2012/2013 ditambah lagi 1 jam pembelajaran untuk Muatan Lokal Kitab Kuning sesuai dengan Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya Nomor 421.2/2891/Disdik/2012  mengacu pada Peraturan Bupati Tasikmalaya Nomor 16 Tahun 2012 Tentang Wajib Belajar Pendidikan Diniyah di Kabupaten Tasikmalaya.

3) Kegiatan Pengembangan Diri

Kegiatan pengembangan diri merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran sebagai bagian dari isi kurikulum sekolah. Kegiatan pengembangan diri merupakan upaya pembentukan watak dan kepribadian peserta didik yang dilakukan melalui kegiatan layanan konseling dan kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ekstrakurikuler merupakan wadah yang disediakan oleh satuan pendidikan untuk menyalurkan minat, bakat, hobi, kepribadian, dan kreativitas peserta didik yang dapat dijadikan sebagai alat untuk mendeteksi talenta peserta didik.

Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, kondisi, dan perkembangan peserta didik, dengan memperhatikan kondisi sekolah.

Jenis-jenis pengembangan diri yang dikembangkan di SMA Negeri 1 Singaparna dibagi kedalam beberapa bidang sebagai berikut:

A.Bidang Pengembangan IPTEK

1). Kelompok Pembinaan OSN (Olimpiade Sains Nasional), yang meliputi:

- Kelompok / Study Club Matematika

- Kelompok / Study Club Fisika

- Kelompok / Study Club Kimia

- Kelompok / Study Club Biologi

- Kelompok / Study Club Astronomi

- Kelompok / Study Club TIK

- Kelompok / Study Club Ekonomi

- Kelompok / Study Club Kebumian

- Kelompok / Study Club Geografi

2). Kelompok Bahasa Inggris

3). Kelompok KIR

 

B.Bidang Olah Raga

1). Kelompok Bola Basket

2). Kelompok Sepak Bola

3). Kelompok Footsal

4). Kelompok Voli Ball

5). Kelompok Karate (BKC)

6). Kelompok Perisai Diri

7). Kelompok Bulu Tangkis

C.Bidang Seni

1). Kelompok Seni Musik

2). Kelompok Seni Rupa

3). Kelompok Theater

4). Kelompok Karawitan

5). Kelompok Seni Tari

D.Bidang Pembinaan Akhlak, Sosial, dan Kemasyarakatan

1). Kelompok Ikatan Remaja Masjid (IREMA)

2). Kelompok PMR

3). Kelompok Pramuka

4) Kelompok Paskibra

5).Patroli Keamanan Sekolah (PKS)

 

Untuk menentukan pilihannya, peserta didik diberikan angket pilihan jenis ekstra kurikuler /pengembangan diri yang disediakan oleh sekolah. Peserta didik boleh memilih lebih dari satu pilihan asalkan waktu pelaksanaan kegiatan pengembangan diri yang dipilih peserta didik tidak bersamaan.

Kegiatan pengembangan diri dilaksanakan setelah kegiatan pembelajaran selesai yaitu pada siang/ sore hari (Program dan jumlah peserta ada pada Pembina masing-masing kegiatan pengembangan diri/ ekstra kurikuler).

4) Pengaturan Beban Belajar

Beban belajar yang diberlakukan di SMA Negeri 1 Singaparna Kabupaten Tasikmalaya yaitu sistem paket. Sistem paket yaitu sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya diwajibkan mengikuti seluruh program pembelajaran dan bahan ajar yang sudah ditetapkan untuk setiap kelas sesuai dengan struktur kurikulum yang berlaku di SMA Negeri 1 Singaparna.

Beban belajar setiap mata pelajaran pada sistem paket dinyatakan dalam satuan jam pembelajaran. Beban belajar dirumuskan dalam bentuk satuan waktu yang dibutuhkan oleh peseta didik untuk mengikuti program pembelajaran melalui kegiatan tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri. Beban belajar penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri pada SMA yang menggunakan sistem paket yaitu 0% - 60% dari waktu kegiatan tatap muka mata pelajaran yang bersangkutan. Pemanfaatan alokasi waktu tersebut mempertimbangkan potensi dan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi.

Uraian tentang jumlah minggu efektif per tahun tercantum dalam kalender pendidikan, sedangkan jumlah jam pelajaran pertahun untuk setiap mata pelajaran dijelaskan dalam program tahunan setiap mata pelajaran.

5) Ketuntasan Belajar

Kriteria ketuntasan belajar minimal di SMA Negeri 1 Singaparna ditentukan oleh masing-masing guru mata pelajaran berkoordinasi dengan ketua MGMP sekolah. Kriteria ketuntasan belajar minimal ini akan ditingkatkan secara berkelanjutan sehingga mencapai kriteria ideal untuk sebuah ketuntasan. Kendatipun dalam Kurikulum 2013 penilaian pengetahuan dan keterampilan menggunakan skala nilai 1-4 (berdasarkan Lampiran Keputusan Dirjen Dikmen No: 717/D/Kep/2013), akan tetapi penentuan Kriteria Ketuntasan Belajar Minimal (KKM) tetap diperlukan sebagai acuan batas minimal ketuntasan belajas siswa, akan tetapi hasil akhir di Lembar Capaian Kompetensi (LCK) peserta didik tetap menggunakan konversi pada skal nilai 1-4.

 

Penentuan kriteria ketuntasan minimal mengacu kepada tiga aspek,yaitu:

1.  Kompleksitas Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD)

2.  Intake Siswa (kemampuan rata-rata peserta didik)

3.  Kemampuan sarana dan prasarana pendukung

 

Tabel 7: KKM Kelas X

MATA PELAJARAN

Kriteria Ketuntasan Minimal

Semester 1

Semester 2

Kelompok A (Wajib)

  1. Pendidikan Agama & Budi Pekerti

 

2,66

 

2,66

  1. Pendidikan Pancasila & Kewarganegaraan

2,66

2,66

  1. Bahasa Indonesia

2,66

2,66

  1. Matematika

2,66

2,66

  1. Sejarah Indonesia

2,66

2,66

6.   Bahasa Inggris

2,66

2,66

Kelompok B (Wajib)

 

 

7.   Seni Budaya

2,66

2,66

8.   Penjasorkes

2,66

2,66

9.  Prakarya dan Kewirausahaan

2,66

2,66

10. Bahasa Sunda (Mulok)

2,66

2,66

Kelompok C (Peminatan)

 

 

Peminatan MIA

 

 

  1. Matematika

2,66

2,66

  1. Biologi

2,66

2,66

  1. Fisika

2,66

2,66

  1. Kimia

2,66

2,66

Peminatan IIS

 

 

  1. Geografi

2,66

2,66

  1. Sejarah

2,66

2,66

  1. Sosiologi

2,66

2,66

  1. Ekonomi

2,66

2,66

Kelompok D (Lintas Minat)

  1. Bahasa Inggris

2,66

2,66

  1. Bahasa Indonesia

2,66

2,66

  1. Bahasa Arab

2,66

2,66

Tabel 8: KKM Kelas XI

MATA PELAJARAN

Kriteria Ketuntasan Minimal

Semester 1

Semester 2

Kelompok A (Wajib)

  1. Pendidikan Agama & Budi Pekerti

 

2,66

 

2,66

  1. Pendidikan Pancasila & Kewarganegaraan

2,66

2,66

  1. Bahasa  Indonesia

2,66

2,66

  1. Matematika

2,66

2,66

10.  Sejarah Indonesia

2,66

2,66

6.   Bahasa Inggris

2,66

2,66

Kelompok B (Wajib)

 

 

7.   Seni Budaya

2,66

2,66

8.   Penjasorkes

2,66

2,66

9.  Prakarya dan Kewirausahaan

2,66

2,66

10. Bahasa Sunda (Mulok)

2,66

2,66

Kelompok C (Peminatan)

 

 

Peminatan MIA

 

 

  1. Matematika

2,66

2,66

  1. Biologi

2,66

2,66

  1. Fisika

2,66

2,66

  1. Kimia

2,66

2,66

Peminatan IIS

 

 

  1. Geografi

2,66

2,66

  1. Sejarah

2,66

2,66

  1. Sosiologi

2,66

2,66

  1. Ekonomi

2,66

2,66

Kelompok D (Lintas Minat)

  1. Bahasa Inggris

2,66

2,66

  1. Bahasa Indonesia

2,66

2,66

  1. Bahasa Arab

2,66

2,66

Tabel 9: KKM Program Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)

KOMPONEN

Kriteria Ketuntasan Minimal

Kelas XII

Sem. 5

Sem. 6

A.  MATA PELAJARAN

1. Pendidikan Agama

 

80

 

80

2. Pendidikan Kewarganegaraan

80

80

3. Bahasa Indonesia

79

79

4. Bahasa Inggris

78

78

5. Matematika

78

78

6. Fisika

78

78

7. Kimia

78

78

8. Biologi

78

78

9. Sejarah

78

78

10. Seni Budaya

79

79

11. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

78

78

12. Teknologi Informasi dan Komunikasi

78

 

78

13. Bahasa Arab

78

78

  1. B. MUATAN LOKAL :

1.  Bahasa Sunda

2.  Kitab Kuning

 

79

80

 

 

79

80

 

Tabel 9: KKM Program Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

KOMPONEN

Kriteria Ketuntasan Minimal

Kelas XII

Sem. 5

Sem. 6

A. MATA PELAJARAN

1. Pendidikan Agama

 

80

 

80

2. Pendidikan Kewarganegaraan

80

80

3. Bahasa Indonesia

79

79

4. Bahasa Inggris

78

78

5. Matematika

78

78

6. Sejarah

79

79

7. Geografi

78

78

8. Ekonomi

78

78

9. Sosiologi

79

79

10. Seni Budaya

77

77

11. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

78

78

12. Teknologi Informasi dan Komunikasi

78

78

13. Bahasa Arab

78

78

B. MUATAN LOKAL:

1. Bahasa Sunda

3. Kitab Kuning

 

79

80

 

 

79

80

 

 

Ketuntasan belajar setiap indikator dalam setiap Kompetensi Dasar dengan rentang angka 0 – 100. Kriteria ketuntasan minimal (KKM) di SMA Negeri 1 Singaparna untuk setiap mata pelajaran dibuat pada awal semester dan dijadikan dasar untuk penentuan KKM semester berikutnya. Diharapkan kriteria ketuntasan minimal terus meningkat untuk mencapai KKM ideal (100%).

6) Kriteria Kenaikan Kelas dan Kelulusan

1).Kenaikan Kelas

a. Waktu Kenaikan Kelas

Kenaikan kelas dilaksanakan pada akhir tahun dengan memperhatikan kriteria kenaikan kelas dan diputuskan melalui keputusan rapat dewan guru.

b. Kriteria Kenaikan Kelas

1)  Kehadiran tatap muka pada setiap mata pelajaran minimal 90 % dari total kehadiran seluruhnya.

2)  Menunjukan sikap, prilaku, dan budi pekerti yang baik.

3)  Tidak terlibat tindak kriminal.

4)  Tidak terlibat narkoba dan perkelahian.

5)  Tidak melawan guru dan tenaga kependidikan lainnya, baik secara fisik maupun non-fisik.

6) Siswa kelas X dinyatakan naik ke kelas XI, apabila yang bersangkutan memiliki nilai semua mata pelajaran sudah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) atau memiliki nilai yang tidak mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) paling banyak 3 (tiga) mata pelajaran pada kompetensi pengetahuan, keterampilan, dan/atau sikap yang beluam tuntas/belum baik pada semester kedua

7) Siswa kelas XI dinyatakan naik ke kelas XII, apabila siswa yang bersangkutan memiliki nilai semua mata pelajaran sudah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) atau memiliki nilai yang tidak mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) paling banyak 3 (tiga) mata pelajaran  pada kompetensi pengetahuan, keterampilan, dan/atau sikap yang beluam tuntas/belum baik pada semester kedua

c. Pelaksanaan Penilaian Hasil Belajar Siswa

Untuk mengumpulkan dan mengolah informasi dalam menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik dan untuk menentukan kenaikan kelas peserta didik dari kelas X ke kelas XI atau dari kelas XI ke kelas XII di SMA Negeri 1 Singaparan, pendidik dan satuan pendidikan melakukan penilaian terhadap peserta didik. Penilaian tersebut diberikan dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas.

d. Mekanisme dan Prosedur Pelaporan Hasil Belajar.

Nilai laporan hasil belajar per semester merupakan nilai komulatif dari hasil pencapaian standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) selama peserta didik mengikuti pembelajaran pada semester yang terkait, yang diperoleh melaui ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester dan ulangan kenaikan kelas (untuk semester genap) termasuk hasil remedial.

SMA Negeri 1 Singaparna membuat laporan hasil penilaian mata pelajaran untuk semua kelompok mata pelajaran pada akhir semester dalam bentuk buku laporan hasil belajar (rapor), dan menyampaikan laporan dimaksud kepada orang tua / wali peserta didik. Penentuan nilai pada Lembar Capaian Kompetensi (Peserta Didik (LCKPD) atau buku laporan hasil belajar (rapor) untuk setiap mata pelajaran di kelas X dan XI ditentukan dengan menggunakan rumus: NR = 2NH+UTS+UAS/UKK/UTK dibagi 4. Untuk NR= Nilai Rapor, NH= Nilai Rata-Rata Ulangan Harian, UTS= Nilai Ulangan Tengah Semester, UAS= Nilai Ulangan Akhir Semester, UKK= Nilai Ulangan Kenaikan Kelas, UTK = Ujian Tingkat Kompetensi khusus di kelas XI (tingkat 5).

Penentuan penilaian sikap sosial dan spiritual ditentukan melalui penilaian ;

  1. Observasi
  2. Penilaian diri
  3. Penilaian antar peserta didik, dan
  4. Jurnal

 

Penentuan penilaian kompetensi pengetahuan dilakukan melalui ;

  1. Hasil Tes tulis atau ulangan harian atau UTS/UTK/UKK
  2. Penugasan individu atau kelompok

Penentuan penilaian kompetensi keterampilan  dilakukan melalui ;

  1. Penilaian Hasil Praktikum
  2. Penilaian Projek atau tugas-tugas belajar (Learning task),dan
  3. Penilaian portofolio/kumpulan karya peserta didik

Konsep penilaian di SMA Negeri 1 Singaparna mengacu pada konsep penilaian kurikulum 2013 antara lain ;

1. Penilaian   otentik   merupakan   penilaian   yang   dilakukan   secara komprehensif  untuk  menilai  mulai  dari  masukan  (input),  proses,dan keluaran (output) pembelajaran.

2. Penilaian diri merupakan penilaian yang dilakukan sendiri oleh peserta didik  secara  reflektif  untuk  membandingkan  posisi  relatifnya  dengan kriteria yang telah ditetapkan.

3. Penilaian  berbasis  portofolio merupakan  penilaian  yang dilaksanakan untuk   menilai   keseluruhan   entitas   proses   belajar   peserta   didik termasuk   penugasan   perseorangan   dan/atau   kelompok   di   dalam dan/atau    di    luar    kelas    khususnya    pada    sikap/perilaku    dan keterampilan.

4.  Ulangan    merupakan    proses    yang    dilakukan    untuk    mengukur pencapaian  kompetensi  peserta  didik  secara  berkelanjutan  dalam proses pembelajaran, untuk memantau kemajuan dan perbaikan hasil belajar peserta didik.

5.  Ulangan  harian  merupakan  kegiatan  yang  dilakukan  secara  periodik untuk  menilai  kompetensi  peserta  didik  setelah  menyelesaikan  satu Kompetensi Dasar (KD) atau lebih.

6.  Ulangan  tengah  semester  merupakan  kegiatan  yang  dilakukan  oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah melaksanakan 8 – 9 minggu kegiatan pembelajaran. Cakupan ulangan tengah  semester  meliputi  seluruh  indikator  yang  merepresentasikan seluruh KD pada periode tersebut.

7.  Ulangan  akhir  semester  merupakan  kegiatan  yang  dilakukan  oleh pendidik  untuk  mengukur  pencapaian  kompetensi  peserta  didik  di akhir  semester.  Cakupan  ulangan  meliputi  seluruh  indikator  yang merepresentasikan semua KD pada semester tersebut.

8.  Ujian  Tingkat  Kompetensi  yang  selanjutnya  disebut  UTK  merupakan kegiatan  pengukuran  yang  dilakukan  oleh  satuan  pendidikan  untuk mengetahui  pencapaian  tingkat  kompetensi.  Cakupan  UTK  meliputi sejumlah  Kompetensi  Dasar  yang  merepresentasikan  Kompetensi  Inti pada tingkat kompetensi tersebut.3

9.  Ujian   Mutu   Tingkat   Kompetensi   yang   selanjutnya   disebut   UMTK merupakan  kegiatan  pengukuran  yang  dilakukan  oleh  pemerintah untuk  mengetahui  pencapaian  tingkat  kompetensi.  Cakupan  UMTK meliputi    sejumlah    Kompetensi    Dasar    yang    merepresentasikan Kompetensi Inti pada tingkat kompetensi tersebut.

10. Ujian  Nasional  yang  selanjutnya  disebut  UN  merupakan  kegiatan pengukuran  kompetensi  tertentu  yang  dicapai  peserta  didik  dalam rangka   menilai   pencapaian   Standar   Nasional   Pendidikan,   yang dilaksanakan secara nasional.

Untuk peserta didik kelas XII penilaian dalam Laporan HAsil Belajar Peserta Didik (LHBPD) menggunakan rumus: NR = 2NH+UTS+UAS/UKK dibagi 4. NR= Nilai Rapor, NH= Nilai Rata-Rata Ulangan Harian, UTS= Nilai Ulangan Tengah Semester, UAS= Nilai Ulangan Akhir Semester, UKK= Nilai Ulangan Kenaikan Kelas.

Lembar Capaian Kompetensi Peserta Didik atau Laporan hasil belajar (rapor) berupa buku yang didalamnya mencakup: 1) identitas peserta didik, 2) format nilai hasil belajar peserta didik, 3) format kecakapan kompetensi peserta didik, 4) program pengembangan diri, 5) akhlak mulia dan kepribadian, 6) ketidakhadiran, 7) catatan wali kelas, 8) keterangan pindah sekolah, dan 9) catatan prestasi peserta didik.

e. Pelaksanaan Program Remedial dan Pengayaan

Pembelajaran remedial pada hakikatnya adalah pemberian bantuan bagi peserta didik yang mengalami kesulitan atau kelambatan belajar. Pemberian pembelajaran remedial meliputi dua langkah pokok, yaitu pertama mendiagnosis kesulitan belajar, dan kedua memberikan perlakuan (treatment) pembelajaran remedial yang diakhiri dengan tes. Teknik yang digunakan untuk mendiagnosis kesulitan belajar antara lain: tes prasyarat (prasyarat pengetahuan, prasyarat keterampilan), tes diagnostik, wawancara, pengamatan, dan sebagainya. Bentuk-bentuk kesulitan belajar peserta didik adalah:

1). Kesulitan belajar ringan biasanya dijumpai pada pesrta didik yang kurang perhatian saat

mengikuti pelajaran;

2). Kesulitan belajar sedang dijumpai pada peserta didik yang mengalami gangguan belajar

yang berasal dari luar diri peserta didik, misalnya faktor keluarga, lingkungan tempat

tinggal, pergaulan, dan sebagainya.

3). Kesulitan belajar berat dijumpai pada peserta didik yang mengalami ketunaan pada diri

mereka, misalnya tuna rungu, tuna netra, tuna daksa, dan sebagainya.

 

Bentuk pelaksanaan pembelajaran remedial:

1). Pemberian pembelajaran ulang dengan metode dan media yang berbeda jika jumlah

peserta yang mengikuti remedial lebih dari 50%.

2). Pemberian bimbingan secara khusus, misalnya bimbingan perorangan jika jumlah peserta

didik yang mengikuti remedial maksimal 20%.

3). Pemberian tugas-tugas kelompok jika jumlah peserta yang mengikuti remedial lebih dari

20% tetapi kurang dari 50%.

4). Pemanfaatan tutor teman sebaya.

 

Semua pembelajaran remedial diakhiri dengan tes ulang. Pembelajaran remedial dan tes ulang dilaksanakan di luar jam tatap muka. Nilai akhir dari hasil remedial adalah sesuai dengan nilai KKM.

Pengayaan dapat diartikan sebagai pengalaman atau kegiatan peserta didik yang melampaui persyaratan minimal yang ditentukan oleh kurikulum dan tidak semua peserta didik dapat melakukannya. Teknik yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kemampuan berlebih peserta didik dapat dilakukan antara lain melalui: tes IQ, tes inventori, wawancara, pengamatan, dan sebagainya.

Identifikasi kemampuan belajar berdasarkan jenis serta tingkat kelebihan belajar peserta didik misalnya belajar lebih cepat, menyimpan informasi lebih mudah, keingintahuan lebih tinggi, berpikir mandiri, superior dan berpikir abstrak, memiliki banyak minat. Identifikasi kemampuan berlebih peserta didik  dapat dilakukan antara lain melalui: tes IQ, tes inventori, wawancara, pengamatan, dan sebagainya. Pelaksanaan pemberian pengayaan dapat dilakukan dengan cara:

1). Belajar Kelompok

2). Belajar mandiri

3). Pembelajaran berbasis tema

4). Percepatan dan akselerasi

Pemberian pembelajaran pengayaan hanya untuk kompetensi/materi yang belum diketahui peserta didik atau merupakan pendalaman dari kompetensi/materi secara umum. Dengan demikian tersedia waktu bagi peserta didik untuk memperoleh kompetensi/materi baru, atau bekerja dalam proyek secara mandiri sesuai dengan kapasitas maupun kapabilitas masing-masing. Pembelajaran pengayaan dapat pula dikaitkan dengan kegiatan penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Penilaian hasil belajar kegiatan pengayaan, tentu tidak sama dengan kegiatan pembelajaran biasa, tetapi cukup dalam bentuk portofolio, dan tidak berpengaruh pada nilai.

2).Kelulusan

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah RI nomor 19 tahun 2005 pasal 72 ayat 1, peserta didik dinyatakan lulus setelah :

a.  menyelesaikan seluruh program pembelajaran;

b.  memperoleh nilai minimal baik (nilai KKM) pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan ;

  1. lulus ujian sekolah;

d.  lulus ujian nasional;

e.  tidak melanggar peraturan/ tata tertib sekolah.

 

SMA Negeri 1 Singaparna menyelenggarakan ujian nasional dan ujian sekolah dan menentukan kelulusan peserta didik  dari ujian nasional/ujian sekolah sesuai dengan POS (prosedur operasi standar) ujian nasional/ujian sekolah bagi satuan pendidikan penyelenggara UN. Ujian Nasional didukung oleh suatu system yang menjamin mutu dan kerahasiaan soal serta pelaksanaan yang aman, jujur, dan adil.

Pada tahun pelajaran 2014/2015, SMA Negeri 1 Singaparna menargetkan kelulusan peserta didik dalam ujian nasional/ujian sekolah mencapai 100% lulus dengan rata-rata nilai diatas 8,0 baik untuk program IPA maupun program IPS.

SMA Negeri 1 Singaparna dalam upaya meningkatkan kualitas lulusan melaksanakan program-program antara lain:

1). Pemberian jam pembelajaran tambahan bagi peserta didik kelas XII yang akan mengikuti

ujian nasional/ujian sekolah.

2). Bekerjasama dengan Balai Bahasa UPI Bandung, menyelenggarakan tes bahasa Inggris

PTESOL (tes bahasa Inggris setara TOEFL) bagi siswa kelas XII dalam upaya

meningkatkan dan mengukur kemampuan  bahasa Inggris.

3)  Bekerjasama dengan Media pembelajaran berbasis web yaitu www.simponiku.com dalam

melaksanakan tryout online dan pembelajaran mandiri.

 

Dalam mengantisipasi peserta didik yang belum lulus ujian akhir, SMA Negeri 1 Singaparna memfasilitasi peserta yang belum lulus untuk mengikuti ujian ulangan atau mengikuti ujian nasional paket C.

7) Kriteria Penjurusan (Kurikulum KTSP/2006)

a. Waktu Penjurusan

1)  Penentuan penjurusan program studi Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial dilaksanakan pada akhir semester 2 kelas X.

2)  Pelaksanaan penjurusan semua program studi yaitu mulai semester 1 kelas XI.

Mulai tahun pelajaran 2013/2014, peminatan dilaksanakan pada awal masuk ke kelas X (Kurikulum 2013).

b. Kriteria Penjurusan

1)  Minat Siswa

Untuk mengetahui minat siswa dapat dilakukan melalui pemberian angket/kuesioner dan wawancara, atau cara lain yang dapat mendeteksi minat siswa.

2)  Nilai Akademik

Siswa yang naik ke kelas XI dan akan mengambil program studi tertentu yaitu IPA atau IPS boleh memiliki nilai yang tidak tuntas paling banyak 3 (tiga) mata pelajaran pada mata pelajaran yang bukan menjadi ciri khas program studi tersebut.

Siswa yang naik ke kelas XI dan yang bersangkutan mendapat nilai yang tidak tuntas 3 (tiga) mata pelajaran, maka nilai tersebut harus dijadikan dasar untuk menentukan program studi yang akan diikuti oleh siswa.

Contoh :

-               Apabila mata pelajaran yang tidak tuntas adalah Fisika, Matematika, dan Sejarah (dua mata pelajaran ciri khas program studi IPA dan satu ciri khas program studi IPS) maka siswa tersebut secara akademik dapat dimasukan ke program studi bahasa. Akan tetapi, SMA Negeri 1 Singaparna pada tahun pelajaran 2014/2015 tidak membuka program studi bahasa, maka siswa seperti pada contoh ini dapat dimasukkan pada program studi IPS.

-               Apabila mata pelajaran yang tidak tuntas adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika (dua mata pelajaran ciri khas program Bahasa dan satu ciri khas program IPA) maka siswa tersebut secara akademik dapat dimasukan ke program studi IPS.

-               Apabila mata pelajaran yang tidak tuntas adalah Ekonomi, Sosiologi, dan Bahasa Inggris (dua mata pelajaran ciri khas program studi IPS dan satu mata pelajaran ciri khas program studi Bahasa) maka siswa tersebut secara akademik dapat dimasukan ke program studi IPA.

Perlu diperhatikan prestasi pengetahuan dan pemahaman konsep, sikap, dan praktek mata pelajaran yang menjadi ciri khas program studi IPA (Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi) dibandingkan dengan mata pelajaran yang menjadi ciri khas program studi IPS (Ekonomi, Sejarah, Geografi, dan Sosiologi).

Perbandingan nilai prestasi siswa dimaksud dapat dilakukan melalui program remedial yang diakhiri dengan ujian. Apabila nilai dari setiap mata pelajaran yang menjadi ciri khas program studi tertentu lebih dari nilai program studi lainnya, maka siswa tersebut dapat dijuruskan ke program studi yang nilai prestasi mata pelajarannya lebih unggul. Apabila antara minat dan bakat  tidak cocok/tidak sesuai, maka wali kelas dengan pertimbangan guru BK dapat memutuskan program studi apa yang dapat dipilih oleh siswa, perlu juga diperhatikan minat siswa.

3)  Hasil tes Psikologi

SMA Negeri 1 Singaparna telah mengadakan kerjasama dengan lembaga layanan tes psikologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) bagi peserta didik untuk mengetahui tingkat kecerdasan (IQ), pengambilan program studi yang sesuai, serta pemilihan jurusan di perguruan tinggi yang sesuai dengan kemampuannya.

4)  Kuota Sekolah

Pada tahun pelajaran 2014/2015, rombongan belajar kelas XII SMAN 1 Singaparna menyediakan kuota 6 rombongan belajar untuk jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), 5 rombongan belajar untuk jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

8) Mutasi Peserta Didik

a. Ketentuan Mutasi Peserta Didik Masuk

SMA Negeri 1 Singaparna akan menerima peserta didik pindahan dari sekolah lain, dengan ketentuan:

1.  Peserta didik yang akan pindah ke SMAN 1 Singaparna berasal dari SMA/MA negeri yang menggunakan kurikulum yang sama dengan SMAN 1 Singaparna.

2.  Perpindahan peserta didik dari SMA/MA dapat dilakukan setelah memenuhi persyaratan administrative maupun seleksi lainnya.

3.  Perpindahan peserta didik hanya dapat dilakukan setelah memiliki Lembar Capaian Kompetensi Peserta Didik (LCKPD) atau buku Laporan Hasil Belajar Peserta Didik  (LHBPD) minimal satu semester.

4.  Mempunyai nilai LCKPD atau LHBPD minimal nilai KKM di SMAN 1 Singaparna, atau mempunyai nilai di bawah KKM  paling banyak 3 (tiga) mata pelajaran.

5.  Membawa surat persetujuan orang tua, rekomendasi dari sekolah asal, dan rekomendasi dari dinas pendidikan kabupaten/kota.

6.  Menyerahkan fotokopi Ijazah dan SKHUN SMP/MTs. yang telah dilegalisir oleh kepala sekolah

7.  Menyerahkan Surat Keterangan Sehat Jasmani dari dokter.

8.  Menyerahkan Surat Keterangan Kelakuan Baik dari sekolah asal yang menyatakan tidak terlibat tindakan kriminal/kenalan remaja dan penyalahgunaan narkoba.

9.  Membuat surat pernyataan bersedia mengikuti program sekolah dan bersedia mentaati peraturan dan tata tertib peserta didik SMAN 1 Singaparna.

  1. Membayar ketentuan keuangan yang ditetapkan oleh SMAN 1 Singaparna.
  2. Kuota sekolah masih memungkinkan.

b. Ketentuan Mutasi Peserta Didik Keluar

SMAN 1 Singaparna akan memberikan rekomendasi mutasi siswa keluar dengan ketentuan sebagai berikut:

1.  Ada permintaan dari orangtua/wali peserta didik.

2.  Telah belajar di SMAN 1 Singaparna minimal 1 semester dan telah memiliki LCKPD atau buku LHBPD.

3.  Telah menyelesaikan seluruh ketentuan keuangan dan ketentuan administrative lainnya yang ditetapkan oleh SMAN 1 Singaparna.

4.  Telah mengembalikan seluruh buku pinjaman dari perpustakaan SMAN 1 Singaparna.

9) Pendidikan Kecakapan Hidup

Pendidikan kecakapan hidup merupakan bagian dari pendidikan semua mata pelajaran. Kecakapan hidup terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran/pengalaman belajar  dan penilaian. Kecakapan hidup mencakup kecakapan kesadaran diri, kecakapan berpikir, kecakapan sosial, dan kecakapan akademik.

a.  Prinsip umum implementasi kecakapan hidup

Implementasi pendidikan kecakapan hidup dalam proses pembelajaran dapat dilakukan secara integral pada semua mata pelajaran. Hal tersebut dapat dilakukan karena pembekalan kecakapan hidup merupakan pesan pendidikan atau “ hidden curriculum” yang keberhasilannya sangat tergantung pada cara penyampaian bukan pada materi pesannya.

Secara umum prinsip implementasi konsep kecakapan hidup adalah :

1).Menekankan pada pola pembelajaran yang mengarah pada prinsip learning to think , learning to do, learning to be, learning to live.

2).Menggunakan pendekatan pembelajaran yang fleksibel ( fleksible learning) dan pembelajaran yang menyenangkan ( enjoyable learning).

3).Pola pendekatan diarahkan kepada proses pembiasaan.

4).Perancangan pembelajaran mengacu kepada keterpaduan penguasaan personal skill, social skill, akademik skill,dan vokasional skill.

5).Perancangan strategi pembelajaran diarahkan pada prinsip cara belajar siswa aktif (CBSA) yaitu siswa sebagai subjek bukan objek.

6).Guru lebih sebagai perancang dan fasilitator untuk terjadinya proses belajar, bukan terjadinya proses mengajar.

b.  Model Pembelajaran Kecakapan Hidup dalam Proses Pembelajaran

Model pembelajaran yang mampu mengembangkan potensi kecakapan hidup yang dimiliki siswa, dapat dirancang melalui penggunaan model mengajar sebagai berikut :

1).Metode kerja kelompok dapat digunakan untuk melatih dan meningkatkan kemampuan bersosialisasi dan berinteraksi antara sesama siswa, menghargai kelebihan dan kekurangan masing-masing anggota team, kemampuan bekerja dalam team dan lain-lain.

2).Metode kasus dapat digunakan untuk menganalisa dan memecahkan persoalan yang terjadi di lingkungan siswa. Pemilihan kasus dapat diserahkan kepada siswa agar siswa lebih peka dalam mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan yang terjadi.

3).Metode eksperimen dapat digunakan untuk melatih kemampuan siswa dalam menganalisis sesuatu, menghubungkan sebab akibat, mencari jalan keluar dari permasalahan yang ada, berpikir berdasarkan fakta yang ada dan didukung oleh landasan teori yang telah ditanamkan atau diberikan melalui tanya jawab dan ceramah. Siswa diberi keleluasaan untuk melakukan percobaan yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Melalui kegiatan ini diharapkan kecakapan akademik lebih tertanam.

4).Metode pemberian tugas dalam bentuk laporan disertai dengan presentasi di depan kelas. Metode ini dapat digunakan untuk mengasah kemampuan siswa dalam menuangkan pokok-pokok pikiran atau ide-ide yang berbentuk tulisan sekaligus mengkomunikasikannya secara lisan, mengeluarkan ide-ide atau gagasan, mendengarkan dan menghargai perbedaan pendapat dari orang lain, mengelola emosi dan hal-hal lain yang berhubungan dengan dirinya dan orang lain.

5).Debat grup, metode ini dapat digunakan untuk melatih kemampuan berkomunikasi, mengeluarkan pendapat, menghargai pendapat lain, tidak memaksakan kehendak pribadi, tidak emosional dalam diskusi, dan menghargai adanya perbedaan sudut pandang terhadap sesuatu.

6).Metode inquiri (penyelidikan) dan discovery (penemuan), dapat digunakan untuk melatih kemampuan siswa dalam mencari hubungan dengan merumuskan hipotesis, menganalisis dan menyimpulkan hasil kajian, melatih berpikir logis, serta memotivasi minat insting siswa untuk belajar melalui proses penemuan dan lain-lain.

7). Model cooperative learning dengan beberapa strategi pembelajaran.

 

10) Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global

SMA Negeri I Singaparna Kabupaten Tasikmalaya mengimplementasikan pendidikan berbasis keunggulan lokal dengan membekali peserta didik tatakrama, sopan santun, taat beragama, dan arif terhadap budaya lokal yang disiratkan pada setiap mata pelajaran agar peserta didik memiliki jiwa santun dan bijak akan jati diri dan lingkungannya. Mulai tahun pelajaran 2013/2014, SMAN 1 Singaparna akan membekali peserta didiknya dengan mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan.

Sedangkan implementasi dari pendidikan berbasis keunggulan global, peserta didik dibekali juga ilmu pengetahuan dan teknologi, diberikan pula materi pelajaran tentang keterampilan berbahasa yaitu bahasa Arab.

 

KALENDER PENDIDIKAN

A. Kalender Pendidikan

Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun pelajaran yang mencakup kegiatan permulaan tahun pelajaran, jumlah minggu efektif belajar satu tahun pelajaran, waktu pembelajaran efektif dan jadwal waktu libur.

Setiap permulaan tahun pelajaran, SMA Negeri 1 Singaparna menyusun kalender pendidikan untuk mengatur kegiatan pembelajaran selama 1 tahun pelajaran yang mencakup permulaan awal tahun pelajaran, munggu efektif, minggu tidak efektif, dan jadwal waktu libur.

Pengaturan waktu di sekolah mengacu kepada standar isi dan disesuaikan dengan kebutuhan daerah, karakteristik sekolah, kebutuhan peserta didik dan masyarakat, serta ketentuan dari pemerintah pusat/pemerintah daerah.

Kalender pendidikan disusun dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

  1. Permulaan tahun pelajaran adalah awal kegiatan pembelajaran pada awal tahun pelajaran setiap satuan pendidikan. Permulaan tahun pelajaran telah ditetapkan oleh pemerintah yaitu bulan Juli setiap tahun dan berakhir pada bulan Juni tahun berikutnya.
  2. Minggu efektif adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran untuk setiap tahun pelajaran. Sekolah dapat mengalokasikan minggu efektif sesuai dengan kebutuhan dan keadaan (need assement).
  3. Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap minggu meliputi jumlah jam pelajaran untuk seluruh mata pelajaran termasuk muatan lokal, ditambah jumlah jam untuk kegiatan pengembangan diri.
  4. Waktu libur adalah waktu yang ditetapkan tidak diadakannya kegiatan pembelajaran terjadwal. Hari libur sekolah ditetapkan berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan Nasional dan ketetapan khusus Kepala Daerah Tingkat kabupaten Tasikmalaya.
  5. Waktu libur dapat berbentuk jeda tengah semester, jeda antar semester, libur akhir tahun pelajaran, hari libur keagamaan, hari libur umum termasuk hari-hari besar nasional, dan hari libur khusus.
  6. Libur jeda tengah semester, jeda antar semester, libur akhir tahun pelajaran digunakan untuk penyiapan kegiatan dan administrasi akhir dan awal tahun.
  7. Hari libur umum/nasional atau penetapan hari serenrak disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah Provinsi/Kabupaten.

 

B. Alokasi Waktu

Permulaan tahun pelajaran adalah waktu dimulainya kegiatan pembelajaran pada tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan. Minggu efektif belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran untuk setiap tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan.

Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah jam pembelajaran pada setiap minggu meliputi jumlah pembelajaran untuk seluruh mata pelajaran, termasuk muatan lokal ditambah jumlah jam untuk kegiatan pengembangan diri.

Waktu libur adalah waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakannya kegiatan pembelajaran terjadwal pada satuan pendidikan yang dimaksud. Waktu libur dapat berbentuk jeda tengah semester, jeda antar semester, libur akhir tahun pelajaran, hari libur keagamaan, hari libur umum termasuk hari-hari besar nasional, dan hari libur khusus.

 

  1. Alokasi Waktu pada Kalender Pendidikan

No

Kegiatan

Alokasi Waktu

Keterangan

1

Minggu efektif belajar :

  1. Semester 1           :  17 minggu
  2. Semester 2           :  18 minggu

 

100 hari

102 hari

Digunakan untuk kegiatan pembelajaran efektif

2

Jeda tengah semester :

  1. Semester 1
  2. Semester 2

 

-

-

 

 

3

Jeda antar semester

2 pekan

 

4

Libur akhir tahun pelajaran

3 pekan

 

5

Hari libur kegamaan

 

disesuaikan

6

Hari libur umum/nasional

 

disesuaikan

7

Hari libur khusus

 

disesuaikan

8

Kegiatan khusus sekolah

1 pekan

 

 

  1. Penetapan Kalender Pendidikan :
    1. Permulaan tahun pelajaran adalah bulan Juli setiap tahun dan berakhir pada bulan Juni tahun berikutnya.
    2. Hari libur ditetapkan berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan Nasional dan atau Menteri Agama dalam hal ini yang terkait dengan hari raya keagamaan.
    3. Pemerintah pusat/provinsi/kabupaten/kota dapat menetapkan hari libur serentak untuk satuan-satuan pendidikan.

 

  1. Kalender Pendidikan SMA Negeri 1 Singaparna untuk tahun Pelajaran 2014/2015 (pada halaman berikutnya).